Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Pemanasan Global, Rekor Suhu Panas Naik Lima Kali Lipat


















KOMPAS.com - Dalam studi yang dipublikasikan oleh peneliti asal Jerman dan Spanyol, disebutkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan rekor suhu tinggi bulanan akan meningkat frekuensinya hingga lima kali lipat. Di sebagian kawasan Eropa, Afrika, dan selatan Asia, frekuensi bulan-bulan dengan suhu panas yang memecahkan rekor telah meningkat sepuluh kali lipat.

Bukti-bukti ini didapat setelah para peneliti menganalisa data temperatur bulanan selama 131 tahun terakhir yang dipantau dari 12 ribu titik di seluruh dunia yang disimpan di database NASA. Ironisnya, jika pemanasan global akibat ulah manusia tidak disertakan dalam penghitungan, rekor-rekor bulan terpanas akan berkurang hingga 80 persen.

“Gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul pada dekade lalu. Sebagai contoh, seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2012, di Russia pada tahun 2010, Australia pada 2009, dan Eropa pada tahun 2003,” kata Dim Coumou, peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Berlin, Jerman.

Dalam 30 tahun ke depan, dengan tren pemanasan global yang ada saat ini, jumlah rekor bulan-bulan terpanas akan 12 kali lipat lebih banyak dibanding saat ini. “Artinya, suhu tinggi di musim panas bukan saja akan muncul 12 kali lipat lebih sering, tapi jauh lebih buruk lagi,” kata Coumou.

Meski demikian, Coumou menyebutkan, untuk dihitung sebagai rekor baru, gelombang suhu panas itu memang harus mengalahkan rekor suhu panas yang akan terjadi di 2020 dan 2030-an. Padahal, temperatur di tahun-tahun tersebut sudah lebih panas dibandingkan dengan yang pernah kita alami sampai saat ini.

Studi yang dilakukan bersama-sama dengan peneliti dari Complutense University of Madrid ini dipublikasikan di jurnal Climatic Change. (Abiyu Pradipa/National Geographic Indonesia)

Kata Ilmuwan, Lubang Hitam Berbentuk Bulan Sabit


















Dari hasil observasi Sagitarius A, lubang hitam di galaksi Bimasakti, ilmuwan memprediksi bahwa lubang hitam punya bentuk bulan sabit.

CALIFORNIA, KOMPAS.com — Astronom memprediksi, lubang hitam memiliki bentuk bulan sabit, bukan gumpalan seperti yang diduga sebelumnya. Prediksi ini terungkap dalam pertemuan tahunan American Astronomical Society ke-221 beberapa waktu lalu.

Lubang hitam memang tak bisa dilihat dan dicitrakan. Namun, batasan lubang hitam atau yang dikenal dengan horizon peristiwa bisa dideteksi dari radiasi yang diemisikan ketika ada benda yang jatuh ke lubang hitam.

Sebuah proyek baru bernama Event Horizon Telescope menggabungkan kekuatan dari beragam teleskop radio untuk melihat obyek yang sangat kecil. Event Horizon Telescope telah melakukan beberapa pengukuran pada obyek Sagitarius A.

Dari hasil beberapa pengukuran, Ayman bin Kamruddin, mahasiswa University of California, Berkeley, yang terlibat proyek, memperkirakan bahwa bentuk bulan sabit adalah bentuk lubang hitam terbaik.

Permodelan mengungkap, bentuk bulan sabit muncul dari bentuk donat pipih yang dibentuk oleh materi yang mengorbit lubang hitam dan sedang dalam perjalanan untuk terjebak masuk ke dalamnya. Satu sisi lubang hitam tampak gelap, yang lainnya terang.

Sementara itu, bagian tengah lubang hitam disebut bayangan lubang hitam. Bagian itulah yang merepresentasikan lubang hitam itu sendiri, obyek paling rapat di semesta sehingga apa pun tak bisa lari, tak terkecuali cahaya.

Mencitrakan lubang hitam memang sangat sulit. Bentuk bulan sabit kali ini memang baru prediksi. Tetapi, prediksi ini sangat penting untuk menguraikan fisika di sekitar lubang hitam. Astronom optimistis bisa mencitrakan lubang hitam dalam waktu dekat.

"Event Horizon Telescope adalah yang pertama bisa mencakup skala luas sebanding dengan ukuran horizon peristiwa dari lubang hitam. Saya pikir bukan hal gila untuk berpikir bahwa kita akan bisa mendapatkan citra itu dalam 5 tahun," kata Kamruddin seperti dikutip Space, Minggu (20/1/2013).

Ini Dia Makhluk Laut Paling Beracun


















KOMPAS.com — Apa makhluk laut paling mematikan? Jawabannya adalah tawon laut atau ubur-ubur kotak. Racun hewan ini bisa menyebabkan kematian pada manusia.

Tawon laut memiliki bentuk tubuh kotak serta tentakel dengan nematosit, bagian yang kaya akan racun. Racun spesies ini jika diinjeksikan pada manusia bisa menyebabkan paralisis hingga kematian dalam waktu hanya beberapa menit setelah sengatan.

Ada 50 jenis tawon laut yang ada di dunia. Spesies tawon laut yang paling beracun adalah tawon laut Australia (Chironex fleckeri), ditemukan di perairan Indi-Pasifik. Tawon laut sekaligus yang terbesar di dunia. Diameter tubuhnya mencapai 31 cm dengan panjang tentakel mencapai 300 cm atau 3 meter.

Ubur-ubur kotak berbeda dengan ubur-ubur lainnya. Karakteristik uniknya adalah kemampuan untuk berenang.

Dituliskan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), tawon laut mampu berenang dengan kecepatan 7,4 km/jam, sementara ubur-ubur lain hanya mengikuti arus. Tawon laut juga memiliki kluster mata sehingga mampu melihat.

Ilmuwan percaya, dengan kemampuan berenang dan melihat, tawon laut mampu berburu mangsa, utamanya udang dan ikan kecil.

Another Source